Tujuh purnama sudah berlalu sejak aku mempertahankan tesisku pada ujian sidang Juli tahun lalu. Tiba-tiba saja aku teringat pesan seorang dosen pembimbing akademik, yang juga pembimbingku dalam menyusun tesis waktu itu. Pesan itu hampir-hampir kuserupakan dengan amanat, atau bahkan wasiat. Yang pasti, aku menyimpannya sebagai janji yang akan kutunaikan. Bukan janji pada guru-ku itu, tapi janji pada diriku sendiri bahwa sekecil apapun ilmu yang kudapatkan -terutama ilmu pengetahuan dari dosenku yang satu itu tentu saja- akan kuperdalam, kuberdayakan, kuperkembangkan, kusebarkan ke sebanyak mungkin manusia demi kehidupan yang lebih baik, yang lebih berarti, yang lebih bermakna. Aku percaya pencerahan manusia bisa dicapai melalui jalan ini.
Namun, sejujurnya aku malu. Aku malu karena sampai saat ini aku belum mampu merealisasikan pesan dan arahannya -yang sudah merupakan janjiku sendiri- agar aku konsisten meniti jalan ilmu pengetahuan. Rasa malu itu muncul bukan karena aku merasa tak mampu, tapi karena aku belum mencoba untuk melakukannya. Aku merasa kosong. Merasa memiliki utang yang belum juga sempat kubayar.
Lalu, aku menemukan kata aku. Jeda. Ya, jeda. Mungkin selama ini aku terlalu keras kepada diriku sendiri sehingga aku malah terbelenggu. Aku lupa bahwa diriku pun perlu jeda. Aku lalai untuk menikmati waktu luang yang selayaknya kuberdayakan untuk menabung energi dan menyuplai gagasan. Aku perlu sedikit bersantai agar pikiranku segar dan terbuka terhadap banyak hal. Hingga di suatu hari, aku siap kembali berkarya dengan cemerlang, entah di ranah apa, atau melalui media apa. Semoga.
11 Februari 2010
05 Februari 2010
aku . . .
Belum lama menjalani peranku sebagai seorang istri, hitungan bulan berikutnya aku mesti belajar menjadi ibu. Ya, ibu untuk janin dalam kandunganku. Senang, tentu saja. Namun, di sebalik itu semua aku banyak mendapatkan konsekuensi.
Mulanya aku merasa tak tahan karena kekerapanku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saking seringnya sampai sehari aku bisa bolak-balik lebih dari lima belas kali. Hal itu sangat mengganggu, terutama ketika aku berada dalam perjalanan dengan menggunakan sarana transportasi umum. Sampai-sampai aku sering minta berhenti meski belum sampai tempat tujuan.
Konsekuensi berikutnya menimpa wajahku, berupa jerawat yang muncul dan tak kunjung habis. Ibaratnya hilang satu tumbuh sepuluh. Wah, jangan tanya mumetnya. Kata orang kalau hamil jadi tambah cantik, kok aku malah jerawatnya yang membukit, hiks... hiks.
Lalu, masalah "standar" yang dialami hampir semua perempuan hamil: mual-muntah. Fhhh.... betapa tak nyamannya, gak enak makan, malas minum, perut begah, kepala pusing, badan letih, lemah, lesu, dan sebagainya. Bawaannya pengen bed rest melulu.
Dan yang paling merepotkan di antara semua itu adalah intensitas air liur yang meningkat entah berapa kali lipat, sehingga aku harus membawa kantong plastik jika bepergian plus tisu ekstra banyak. Belum lagi di saat menjelang tidur atau kalau harus bicara dengan orang lain. Wuihhhh repotnya....
Namun, di atas semua itu, aku kembali belajar untuk semakin meningkatkan kesabaranku, mengabaikan keegoisanku. Aku membentuk diri menjadi manusia baru, demi manusia lain yang tumbuh dalam rahimku: anakku. (Sesungguhnya, jauh di lubuk hatiku aku masih belum percaya, benarkah ada sosok mungil yang bertumbuh bersama diriku, menghirup udara yang sama, mencium aroma yang sama, menyerap nutrisi makanan yang sama, hidup dalam tubuh yang sama).
Mulanya aku merasa tak tahan karena kekerapanku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saking seringnya sampai sehari aku bisa bolak-balik lebih dari lima belas kali. Hal itu sangat mengganggu, terutama ketika aku berada dalam perjalanan dengan menggunakan sarana transportasi umum. Sampai-sampai aku sering minta berhenti meski belum sampai tempat tujuan.
Konsekuensi berikutnya menimpa wajahku, berupa jerawat yang muncul dan tak kunjung habis. Ibaratnya hilang satu tumbuh sepuluh. Wah, jangan tanya mumetnya. Kata orang kalau hamil jadi tambah cantik, kok aku malah jerawatnya yang membukit, hiks... hiks.
Lalu, masalah "standar" yang dialami hampir semua perempuan hamil: mual-muntah. Fhhh.... betapa tak nyamannya, gak enak makan, malas minum, perut begah, kepala pusing, badan letih, lemah, lesu, dan sebagainya. Bawaannya pengen bed rest melulu.
Dan yang paling merepotkan di antara semua itu adalah intensitas air liur yang meningkat entah berapa kali lipat, sehingga aku harus membawa kantong plastik jika bepergian plus tisu ekstra banyak. Belum lagi di saat menjelang tidur atau kalau harus bicara dengan orang lain. Wuihhhh repotnya....
Namun, di atas semua itu, aku kembali belajar untuk semakin meningkatkan kesabaranku, mengabaikan keegoisanku. Aku membentuk diri menjadi manusia baru, demi manusia lain yang tumbuh dalam rahimku: anakku. (Sesungguhnya, jauh di lubuk hatiku aku masih belum percaya, benarkah ada sosok mungil yang bertumbuh bersama diriku, menghirup udara yang sama, mencium aroma yang sama, menyerap nutrisi makanan yang sama, hidup dalam tubuh yang sama).
13 Desember 2009
aku dan catatan harianku
Ternyata, aku tak cukup konsisten untuk menulis di blog-ku ini. Walau begitu, aku cukup intens menulis di buku harian konvensionalku yang berwarna biru, yang tebal, dan karenanya belum harus diganti meski telah menampung catatan harianku sejak September 2007 lalu.
Oh, ya, aku menulis catatan harian sejak Kelas 2 SMP, dan buku-buku itu masih kusimpan sampai sekarang. Oleh karenanya, pasangan hidupku punya cukup banyak referensi otentik tentang diriku dari buku-buku itu. Sayangnya, dia tidak memiliki kebiasaan yang sama, sehingga aku harus puas dengan kisah kehidupannya pada masa lalu melalui sudut pandangnya saat ini. Kalau dipikir-pikir sepertinya kurang adil, ya?
Kembali pada kebiasaanku menulis catatan harian, aku sungguh heran mengapa aku mandeg menulis, padahal belakangan ini tak kurang-kurang pengalaman atau momen-momen penting yang kualami. Sebut saja proses penyelesaian studi magisterku yang menguras cukup banyak energi -dan tentu saja materi-, persiapan dan pelaksanaan pernikahanku dengan Ari tak lama setelah aku maju ujian sidang untuk mempertahankan tesisku.Kondisi dan suasana tempatku bekerja yang fluktuatif.
Hm, belum lagi pengalamanku sebagai pasangan baru dengan segala lika-likunya, fhhh....rame rasanya, sodara-sodara! Ada manis, asam, asin, dll (kaya permen aja, heheh).
Sekarang ada cerita baru pula. Ini tentang gigi. Ya, gigiku yang waktu kecil dulu kurang terawat dengan baik sehingga kini perlu perawatan ekstra. Sebenarnya aku agak khawatir tentang ini. Hm, mudah-mudahan saja segalanya berjalan dengan baik dan aman. Semoga.
Oh, ya, aku menulis catatan harian sejak Kelas 2 SMP, dan buku-buku itu masih kusimpan sampai sekarang. Oleh karenanya, pasangan hidupku punya cukup banyak referensi otentik tentang diriku dari buku-buku itu. Sayangnya, dia tidak memiliki kebiasaan yang sama, sehingga aku harus puas dengan kisah kehidupannya pada masa lalu melalui sudut pandangnya saat ini. Kalau dipikir-pikir sepertinya kurang adil, ya?
Kembali pada kebiasaanku menulis catatan harian, aku sungguh heran mengapa aku mandeg menulis, padahal belakangan ini tak kurang-kurang pengalaman atau momen-momen penting yang kualami. Sebut saja proses penyelesaian studi magisterku yang menguras cukup banyak energi -dan tentu saja materi-, persiapan dan pelaksanaan pernikahanku dengan Ari tak lama setelah aku maju ujian sidang untuk mempertahankan tesisku.Kondisi dan suasana tempatku bekerja yang fluktuatif.
Hm, belum lagi pengalamanku sebagai pasangan baru dengan segala lika-likunya, fhhh....rame rasanya, sodara-sodara! Ada manis, asam, asin, dll (kaya permen aja, heheh).
Sekarang ada cerita baru pula. Ini tentang gigi. Ya, gigiku yang waktu kecil dulu kurang terawat dengan baik sehingga kini perlu perawatan ekstra. Sebenarnya aku agak khawatir tentang ini. Hm, mudah-mudahan saja segalanya berjalan dengan baik dan aman. Semoga.
24 September 2009
Lebaran
Hari ini 1 Syawal 1430 H yang bertepatan dengan 20 September 2009. Tahun-tahun berganti. Dan setiap hari ini tiba, masyarakat muslim menyambutnya dengan istimewa. Demi Idul Fitri atau lebaran, orang rela berlelah-lelah mudik ke kampung halaman, orang bersedia berdesak-desakan di pasar atau di terminal . Lalu, apa sebenarnya arti lebaran bagi setiap orang. Mudikkah? Ketupat dan oporkah? Solat ied-kah? Baju baru? Atau apa?
Saat ini aku sendiri merenungkannya. Untukku sendiri, antusiasme dan kesan hari Lebaran relatif menurun setiap tahunnya. Pada masa kanak-kanak aku demikian bersemangat menyambutnya. Saat remaja setidaknya aku masih punya antusiasme yang cukup besar meski tak seperti sebelumnya. Kini, entah mengapa rasa dan hasrat itu tak ada lagi. Sejujurnya, aku rindu pada perasaan itu. Rasa penuh, rasa syukur, rasa bahagia yang ah aku tak mampu menguraikannya dengan kata-kata.
Aku pun bertanya-tanya. Aku-kah yang telah berubah, atau keadaan sekelilingku yang berbeda. Ataukah kedua-duanya kini tak lagi sama. Adakah orang-orang juga merasakan hal serupa? Sekali lagi, entahlah…
(kutulis seusai sholat ied di rumah, saat ortu dan adik2ku berkunjung ke rumah saudara.)
Saat ini aku sendiri merenungkannya. Untukku sendiri, antusiasme dan kesan hari Lebaran relatif menurun setiap tahunnya. Pada masa kanak-kanak aku demikian bersemangat menyambutnya. Saat remaja setidaknya aku masih punya antusiasme yang cukup besar meski tak seperti sebelumnya. Kini, entah mengapa rasa dan hasrat itu tak ada lagi. Sejujurnya, aku rindu pada perasaan itu. Rasa penuh, rasa syukur, rasa bahagia yang ah aku tak mampu menguraikannya dengan kata-kata.
Aku pun bertanya-tanya. Aku-kah yang telah berubah, atau keadaan sekelilingku yang berbeda. Ataukah kedua-duanya kini tak lagi sama. Adakah orang-orang juga merasakan hal serupa? Sekali lagi, entahlah…
(kutulis seusai sholat ied di rumah, saat ortu dan adik2ku berkunjung ke rumah saudara.)
13 Agustus 2009
dua tahun bersama mereka
18 Mei 2009
Teman
Aku percaya, salah satu resep hidup bahagia adalah banyak teman. Setelah hampir sebulan sibuk sendiri, juga karena sakit selamat lebih dari seminggu aku kurang menjalin kontak dengan teman-teman. Akhirnya, di akhir pekan kemarin waktu melepas rindu pun tiba. Tidak dengan begitu banyak teman sih, setidaknya aku, ita, dan maulida bisa bertemu pada waktu yang sama. Hampir setahun belakangan ini kami tak sering bertemu. Meski tinggal lumayan berdekatan, ita sibuk bekerja pagi hingga malam, jadi kami tak sering berjumpa. Maulida tinggal di bagian kota yang lumayan jauhnya sehingga tak setiap bulan juga kami bertemu.
Kami mulai berteman ketika sama-sama bergabung di UKM Persma waktu kuliah dulu. Berkegiatan bersama-sama selama hampir tiga tahun membuat perkawanan kami lebih dekat. Kami pun memotret momen itu di taman kampus pada pagi hari yang cerah, di taman kampus yang bunganya rekah. Meski kami belum mandi, tapi gayanya cukup aksi, hehehe....
16 Mei 2009
menjadi manusia...
ada banyak teori sebagai referensi tentang makhluk yang satu ini
mulai dari psikologi, sosiologi, antropologi, sampai biologi,
dari yang paling konkret, sampai yang paling rumit
manusia berhadapan dengan dirinya,
dengan keluarganya,
dengan institusi yang dimasukinya,
dengan lingkungan tempat hidupnya,
dengan alam hayati dan hewani di sekelilingnya.
ada banyak hal yang terjadi.
ada banyak aksi. ada banyak definisi.
ada ingin yang menjadi-jadi,
tapi tak selalu terealisasi.
hm, semoga langkah ini tak terhenti...
ada banyak teori sebagai referensi tentang makhluk yang satu ini
mulai dari psikologi, sosiologi, antropologi, sampai biologi,
dari yang paling konkret, sampai yang paling rumit
manusia berhadapan dengan dirinya,
dengan keluarganya,
dengan institusi yang dimasukinya,
dengan lingkungan tempat hidupnya,
dengan alam hayati dan hewani di sekelilingnya.
ada banyak hal yang terjadi.
ada banyak aksi. ada banyak definisi.
ada ingin yang menjadi-jadi,
tapi tak selalu terealisasi.
hm, semoga langkah ini tak terhenti...
Langganan:
Postingan (Atom)

